VI - Penelitian Tindakan Kelas - KOMPONEN PENYUSUNAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)



Abstrak


Substansi secara umum, penyusunan proposal penelitian tindakan kelas (PTK) terdiri atas komponen-komponen utama berikut: (1) Judul Penelitian, (2) Latar Belakang Penelitian, (3) Rumusan Masalah Penelitian, (4) Tujuan Penelitian, (5) Manfaat Penelitian, (6) Kajian Pustaka, (7) Metode Penelitian yang mencakup unsur-unsur: (a) Subjek dan Objek Penelitian, (b) Variabel Penelitian, (c)  Rancangan Tindakan, (d)  Data dan Sumber Data, (e) Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data, (f)  Teknik Analisis Data, (g) Indikator Keberhasilan, (8) Rencana Anggaran, (9) Jadwal Penelitian, (10) Personalia Penelitian, (11) Daftar Pustaka, (12) Lampiran-lampiran.


Kata Kunci: Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Komponen Penyusunan PTK, Sistematika PTK

I.        PENDAHULUAN
Penyusunan laporan penelitian merupakan upaya terakhir untuk mengkomunikasikan hasil yang diperoleh dari sebuah kegiatan penelitian. Laporan penelitian merupakan bentuk karya tulis ilmiah yang disusun dengan maksud agar hasil-hasil yang diperoleh dari kegiatan penelitian dapat disebarluaskan pada masyarakat, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan . Di samping itu melalui sebuah laporan penelitian para pembaca dapat memperoleh petunjuk penggunaan prinsip-prinsip penelitian tersebut dalam kehidupan praktis.
Penulisan laporan dalam bentuk karya ilmiah seperti makalah, skripsi, thesis, disertasi laporan penelitian proyek, atau dalam bentuk karya tulis ilmiah lainnya mempunyai peranan yang sangat besar bagi kemajuan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Suatu kegiatan penelitian yang dilaksanakan dengan baik, obyektif, menyita waktu yang cukup lama dan menghabiskan biaya yang sangat besar, tidak akan banyak manfaatnya apabila tidak disusun laporannya. Sebaliknya suatu penelitian yang sederhana dilaksanakan dalam lingkup yang terbatas seperti halnya penelitian tindakan kelas yang dilakukan guru, namun apabila hasilnya dilaporkan dalam bentuk karya tulis yang baik akan banyak manfaatnya, karena mendapat tanggapan yang baik dari para pembacanya. Oleh karena itu setiap peneliti dalam level mana pun perlu memiliki kemampuan untuk menuangkan hasil penelitiannya ke dalam sebuah laporan penelitian yang baik dan disusun secara sistematis.
Salah satu hal yang harus dipenuhi dalam penelitian tindakan kelas adalah penyusunan proposal, karena proposal menjadi syarat untuk mengajukan permohonan izin penelitian. Penyusunan proposal perlu diperhatikan karena proposal menjadi pedoman bagi peneliti dalam melaksanakan tahap-tahap penelitiannya. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai proposal PTK beserta komponen-komponennya.


II.     KOMPONEN PENYUSUNAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
A.    Judul Penelitian
Judul PTK hendaknya dirumuskan secara singkat, padat, spesifik dan tidak memberi kemungkinan penafsiran yang beragam, serta mencerminkan permasalahan pokok yang akan dipecahkan. Formulasi judul dibuat agar menampilkan wujud PTK bukan penelitian pada umumnya. Umumnya di bawah judul di tuliskan pula sub judul. Sub judul di tuliskan untuk menambah keterangan lebih rinci tentang subyek, tempat dan waktu penelitian.
 Jumlah kata dalam judul sebaiknya tidak lebih dari 20 kata, dan judul harus memberikan gambaran tentang apa yang dipermasalahkan dalam PTK, misalnya masalah yang dikaji adalah peningkatan efektifitas pembelajaran sejarah, dan bentuk tindakan yang akan dilaksanakan untuk menyelesaikan masalah adalah dengan mengembangkan keterampilan intelektual siswa.
B.     Latar Belakang Penelitian
Latar belakang masalah menguraikan kondisi objektif yang mendorong PTK itu dilaksanakan. Kondisi ini merupakan hasil identifikasi guru terhadap masalah proses pembelajaran yang diselenggarakan.
Penyusunan latar belakang masalah hendaknya dimulai dari penghayatan permasalahan yang bersifat umum, kemudian dilanjutkan dengan permasalahan yang agak khusus, baru setelah itu mengacu pada permasalahan yang sangat khusus, misalnya mengenai ketidak efektifan pembelajaran sejarah, permasalahan bisa dimulai dari fenomena yang terjadi ditingkat nasional, propinsi, baru setelah itu mengacu pada permasalahan dikelas yang diteliti.
Di dalam bagian ini dikemukakan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, baik kesenjangan teoritik maupun kesenjangan praktis yang melatarbelakangi masalah yang diteliti. Di dalam latar belakang masalah ini dipaparkan secara ringkas teori, hasil-hasil penelitian, kesimpulan seminar dan diskusi ilmiah ataupun pengalaman/pengamatan pribadi yang terkait erat dengan masalah yang akan diteliti. Dengan demikian, masalah yang dipilih untuk diteliti mendapat landasan berpijak yang lebih kokoh.[1]
Latar belakang masalah berisi pemaparan atau deskripsi permasalahan yang sedang terjadi. Biasanya, para peneliti mengemukakan fakta yang seharusnya terjadi dengan fakta yang ada di lapangan sehingga tampak jelas adanya kesenjangan atau permasalahan yang menuntut untuk segera diatasi. Tidak lupa, setiap permasalahan yang diangkat harus ditunjukkan bukti-bukti empirisnya.
Bagian ini juga harus di kemukakan mengenai ide orisinal peneliti untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tentu ide tersebut harus didukung dengan argumentasi dan berlandaskan pada teori yang relevan. Bagian ini bukan wilayah kajian teori, tetapi boleh menyinggung beberapa teori yang melandasi ide sang peneliti. Satu hal yang perlu diingat adalah, bahwa bagian ini harus langsung menukik pada okus permasalahan, sehingga tidak terkesan bertele-tele. [2]
C.    Rumusan Masalah Penelitian
Rumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabannya. Perumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembahasan masalah.[3]
Dalam kaitannya dengan langkah pertama ini, yakni mengidentifikasi dan merumuskan masalah, lebih dahulu di sajikan uraian tentang ruang lingkup masalah dalam PTK. Ini penting agar dalam mengidentifikasi dan merumuskan ruang lingkup masalah, kegiatan mengidentifikasi masalah tidak akan keluar terlalu jauh menyimpang dari permasalahan yang sesungguhnya akan di teliti.[4]
a.       Ruang lingkup masalah
PTK dilakukan untuk mengubah perilaku penelitiannya yaitu guru, perilaku orang lain yaitu siswa, atau merubah kerangka kerja yaitu kegiatan pembelajaran yang pada gilirannya menghasilkan perubahan dan peningkatan kualitas keseluruhan aspek tersebut. Singkatnya, PTK dilakukan untuk meningkatkan kualitas keseluruhan praktik pembelajaran dalam situasi nyata.
Sesuai dengan keragaman situasi lapangan, beragam pula konteks PTK, antara lain sebagai berikut:
1.      Berperan sebagai pemacu dilakukannya tindakan, yang tujuannya adalah agar sesuatu dilakukan secara lebih tepat guna.
2.      Ditujukan untuk keberfungsian personal, hubungan antarpribadi dan moral, berkenaan dengan efisiensi kinerja, peningkatan motivasi dan keaktifan hubungan antar individu.
3.      Difokuskan pada analisis pekerjaan dan dimaksudkan untuk meningkatkan fungsi dan efisiensi professional.
4.      Berkenaan dengan inovasi dan perubahan serta cara melaksanakannya dalam system yang ada.
5.      Difokuskan pada pemecahan masalah dalam konteks pembelajaran tertentu yang memerlukan pemecahan atau perbaikan.
Dalam konteks ini, beberapa contoh bidang garapan PTK untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran diantaranya adalah:
1)      Metode Mengajar, misalnya, mengganti  metode trdisional dengan metode penemuan baru atau penerapan metode kreatif-bervariasi;
2)      Strategi Belajar, misalnya, penerapan pendekatan integrative dalam pembelajaran, pendekatan kontekstual, pendekatan kolaboratif, pendekatan eksperiansal, pendekatan jigsaw dan sebagainya;
3)      Prosedur Evaluasi, misalnya, meningkatkan penggunaan metode penilaian berkelanjutan, penilaian berbasis kelas, penilaian portofolio, dan sebagainya;
4)      Sikap dan Nilai, misalnya, peningkatan motivasi timbulnya sikap dan kebiasaan belajar yang baik, atau peningkatan sikap yang lebih positif terhadap beberapa aspek kehidupan;
5)      Pengembangan Profesional Guru, misalnya, meningkatkan keterampilan mengajar, mengembangkan metode mengajar yang baru, meningkatkan kemampuan analisis, atau meningkatkan penghayatan profesi keguruan;
6)      Pengelolaan Dan Kontrol, misalnya, pengenalan secara bertahap terhadap teknik-teknik modifikasi tingkah laku.
Karena PTK harus mempertimbangkan situasi secara keseluruhan, istilah masalah tematiksebagaimana yang dikenalkan oleh Kemmis dan Mc Taggart perlu di pahami juga oleh guru. Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan beberapa contoh berkenaan dengan masalah-masalah tersebut:
1.      Masalah tematik : mengembangkan kepekaan kurikulum dan pembelajaran terhadap lingkungan rumah siswa.
Metode: meningkatkan keefektifan interaksi guru dengan orang tua siswa.
2.      Masalah tematik: mengembangkan keaktifan dan penghayatan yang lebih mendalam pada diri siswa terhadap pemikiran ilmiah.
Metode: menerapkan model pembelajaran yang menuntut keaktifan siswa dalam bidang sains.
3.      Masalah tematik: mengembangkan dan melestarikan warisan dwibudaya dalam masyarakat kesukuan melalui pendidikan.
Metode: kurikulum dwibahasa dan dwibudaya dengan melibatkan anggota masyarakat secara aktif dalam kegiatan bahasa dan budaya di kelas.
b.      Identifikasi masalah
Masalah yang akan diteliti harus dirasakan dan identifikasi oleh guru sendiri sebagai peneliti, meskipun dapat juga dilakukan dengan bantuan seorang fasilitator, supaya merasa betul-betul terlibat dalam proeses penelitiannya. Masalahnya terdapat berupa kekurangan yang dirasakan dalam penerapan model pembelajaran, penggunaan metode, penggunaan alat peraga, rendahnya keaktifan siswa dalam pembelajaran, kreativitas belajar siswa, dan sebagainya. Pendek kata, masalahnya berupa kesenjangan antara kenyataan dan keadaan yang diinginkan.
Ada beberapa criteria dalam penentuan masalah yaitu:
1.      Masalah harus penting bagi guru dan siswa serta perbaikan proses pembelajaran;
2.      Masalah harus realistis, artinya benar-benardirasakan sebagai sesuatu yang penting untuk di teliti dan diperbaiki;
3.      Masalah harus bersifat problematic, artinya memang benar-benar menuntut untuk dilakukan pemecahannya.
4.      Masalah harus mengandung manfaat yang jelas untuk perbaikan pembelajaran dan peningkatan hasil belajar siswa;
5.      Masalahnya hendaknya berada dalam jangkauan penanganan. Artinya, jangan sampai meilih masalah yang guru sendiri kesulitan untuk melakukannya.
6.      Pernyataan masalah harus mengungkapkan beberapa dimensi fundamental mengenai factor-faktor penyebabnya sehingga upaya pemecahannya dapat dilakukan berdasarkan hal-hal fundamental ini dan bukan berdasarkan fenomena yang bersifat dangkal.
Selain criteria diatas, sejumlah criteria berikut ini juga sangat penting diperhatikan untuk menentukan masalah dalam PTK, yaitu:
1)      Masalah yang akan diteliti dan dipeahkan diangkat dari praktik pembelajaran dikelas,
2)      Penanganan masalah dilakukan secara langsung dan segera pada saat itu juga,
3)      Penelaahan atau pencermatan terhadap ada-tidaknya perbaikan atau kemajuan dari tindakan yang dilakukan harus lebih berfokus pada data hasil observasi dan data perubahan perilaku daripada data dokumentasi,
4)      Masalah penelitian harus difokuskan untuk tujuan meningkatkan kualitas prktik pembelajaran.
c.       Perumusan masalah
Masalah dalam PTK adalah kesenjangan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan dalam kegiatan pembelajaran. Masalah-masalah tersebut hendaknya dideskripsikan dengan jelas agar perumusan masalahnya dapat dibuat secara jelas pula. Pada intinya rumusan masalah harus mengandung deskripsi secara jelas tentang kesenjangan antara kenyataan yang ada dengan keadaan yang diinginkan.
D.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian harus sesuai dengan rumusan masalah dan tindakan perbaikan. Dalam hal ini Anda harus ingat bahwa tujuan penelitian berbeda dari tujuan perbaikan. Tujuan penelitian pada umumnya berkisar pada mendeskripsikan atau mengumpulkan informasi atau menguji hipotesis. Terkait dengan tujuan penelitian pada umumnya, maka PTK pada umumnya bertujuan untuk mendeskripsikan proses dan hasil perbaikan. Dengan perkataan lain tujuan ini berkaitan dengan mencari jawaban apakah tindakan perbaikan yang kita lakukan berhasil mencapai perbaikan yang diharapkan, atau ada yang perlu diubah pada daur (siklus) berikutnya.
Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara jelas. Paparkan sasaran antara dan akhir tindakan perbaikan. Perumusan tujuan harus konsisten dengan hakikat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian-bagian sebelumnya. Dengan sendirinya, artikulasi tujuan PTK berbeda dari tujuan formal. Sebagai contoh, PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan setrategi PMB yang baru, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mengajar, dan sebagainya. Pengujian dan pengembangan strategi PMB baru, bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya, ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverifikasi sacara objektif. Lebih baik apabila dapat dikuantifikasikan supaya lebih jelas dan terukur.
E.     Manfaat Penelitian
Di samping tujuan PTK, perlu juga diuraikan kemungkinan manfaat penelitian. Dalam hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang diijinkan, khususnya bagi siswa sebagai pelaksana langsung hasil PTK, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi rekan-rekan guru lainya, serta bagi para dosen LPTK sebagai pendidik guru. Berbeda dari konteks penelitian formal, manfaat bagi pengembangan ilmu teknologi dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.
F.     Kajian Pustaka
Kajian teori memang sering diidentikkan dengan buku dan sumber-sumber rujukan lain sebab memang di situlah khazanah teori itu berada. Sayangnya, hal ini juga sering dijadikan sebagai alasan bagi para peneliti, khususnya guru, untuk bermalas-malasan dan berkeluh kesah. Dengan alasan tidak tersedia buku-buku pendukung yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian disekolah, guru kemudian enggan untuk melakukan PTK. Kemungkinan lain, guru tidak mengetahui berada di buku apa teori-teori yang ia butuhkan untuk melakukan penelitian itu. Di samping itu, factor budaya baca masih sangat rendah di Negeri ini ­­termasuk juga di kalangan guru menjadi kendala tersendiri. Tidak mungkin sebuah proses kajian teori atau tinjauan pustaka bisa dilakukan dengan baik apabila si peneliti tidak suka membaca, khususnya buku-buku standar penelitian yang biasanya cukup berat.
Dengan demikian, mencari dan membaca buku-buku tentang tema-tema yang relevan dengan judul PTK adalah sesuatu yang wajib dilakukan. Bagaimana bisa seorang guru menyuruh anak-anak didiknya untuk rajin membaca sedangkan ia sendiri tidak suka membaca dalam kesehariannya mereka? Dengan cara apalagi seorang guru bisa memperbarui pengetahuannya jika ia tidak pernah membaca?
Atas dasar ini, PTK sekaligus juga bisa menjadi jembatan yang sangat ampuh untuk menjadi guru professional. Guru yang dapat melakukan PTK dengan baik pasti memiliki kemampuan mengajar yang baik juga. Tetapi, guru yang bisa mengajar dengan baik belum tentu dapat melakukan PTK dengan baik. Mengapa bisa demikian? Hal ini tidak lain karena tingkat baca pada guru yang mampu melakukan PTK.
Nah, dalam bagian kajian teori, guru harus mencari dan memaparkan beragam yang mendukung ide untuk bertindak. Sekedar contoh, seorang guru mempaunyai ide untuk menggunakan peraga dalam pembelajaran kimia agar siswa lebih mudah menguasai konsep-konsep kimiawi. Maka, buku yang dibaca adalah buku-buku alat peraga dan pelajaran kimia yang ingin diajarkan kepada siswa. Dengan demikian, peneliti dapat menemukan alasan yang kuat dan argumentasi yang akurat serta landasan teori yang kokoh untukmenguji coba idenya tersebut.
Kesalahan yang sering terjadi pada bagian ini adalah peneliti hanya menyebutkan arti suatu kata kunci secara harfiah yang tanpa menjelasknnya secara lebih. Sekedar contoh, peneliti yang mengangkat judul “ Penggunaan Alat Peraga untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep pada Mata Pelajaran Kima Kelas X di SMA Yogyakarta”, akan mendefinisikan kata-kata penggunaan, alat peraga, peningkatan, konsep, kimia, dan seterusnya, sesuai maknanya dalam kamus. Ini bukan teori namanya, tetapi hanya terjemahan harfiah secara bahasa. Seharusnya, peneliti menggunakan teori tentang, misalnya, alat peraga dan pelajaran kimia kelas X yang dicetuskan oleh seorang ahli pendidikan.
Kemudian, dari dua teori yang dikaji tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penggunaan alat [eraga dapat meningkatkan pemahaman siswa mengenai konsep-konsep dasar dalam pelajaran kimia. Dengan demikian, secara teoritis, alat peraga dapat menjadikan sesuatu yang abstrak menjadi sessuatu yang berbentuk konkrit atau sesuatu yang nyata dan dapat dipraktikkan. Dengan demikian, diharapkan siswa akan lebih memahami konsep-konsep kimia dasar.
G.    Metode Penelitian
Yang dimaksud prosedur penelitian adalah langkah-langkah operasional baik yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, observasi/evaluasi, maupun refleksi. Langkah-langkah operasional tersebut bersumber dari kerangka konseptual yang diuraikan pada bagian sebelumnya.
Pada bagian ini digambarkan tindakan apa yang yang akan dilakukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, seperti:
1.      Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian adalah orang yang dikenai tindakan. Dalam konteks pendidikan di sekolah, subjek penelitian adalah siswa, guru, pegawai, atau kepala sekolah. Dalam kontek pembelajaran di sekolah, subjek penelitian umumnya adalah siswa. Tetapi harus dijelaskan siswa kelas berapa, semester berapa pada tahun akademik tertentu, hal ini karena terkait dengan asal masalah yang dirasakan oleh Guru bersangkutan. Jika masalah dirasakan di kelas VIII semester I, maka sebagai subyek penelitian adalah siswa kelas VIII semester I. Tentunya, klarifikasi mengapa siswa di kelas VIII semester I itu digunakan sebagai subjek, harus diungkapkan secara jelas.
Objek penelitian dibedakan atas dua macam, yaitu (1) objek yang mencerminkan proses dan (2) objek yang mencerminkan produk. Objek yang mencerminkan proses merupakan tindakan yang dilakukan berikut perangkat-perangkat pendukungnya. Sedangkan objek yang mencerminkan produk merupakan masalah pembelajaran yang diharapkan mengalami perbaikan dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan.
Tanggapan siswa cukup penting diperhitungkan sebagai objek penelitian, karena esensi penelitian tindakan kelas adalah students satisfaction. Tanggapan siswa tersebut juga dapat mencerminkan secara tidak langsung mengenai proses tindakan. Tanggapan positif mencerminkan proses pembelajaran yang kondusif, sedangkan tanggapan negatif mencerminkan proses pembelajaran yang kurang kondusif.
2.      Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini ditentukan variabel PTK yang dijadikan titik–titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa:[5]
a)      variabel masukan (input) yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya;
b)      variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan
c)      varaibel keluaran (output) seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi siswa, hasil belajar siswa, sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.
3.      Rancangan Tindakan
Yang dimaksud prosedur penelitian adalah langkah-langkah operasional baik yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, observasi/evaluasi, maupun refleksi. Langkah-langkah operasional tersebut bersumber dari kerangka konseptual yang diuraikan pada bagian sebelumnya.
Pada bagian ini digambarkan tindakan apa yang yang akan dilakukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, seperti:
a)        Perencanaan
Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behavior. Pelancaran tes diagnostic untuk menspesifikasi masalah. Pembuatan scenario pembelajaran, pengadaan alat – alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain–lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Disamping itu juga diuraikan alternative–alternative solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah.[6]
Uraikan langkah-langkah kolaborasi yang dilakukan, fakta-fakta empiris yang diperlukan dalam rangka tindakan, sosialisasi esensi tindakan dan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan pada guru sejawat dan siswa, perangkat-perangkat pembelajaran yang perlu disiapkan dan dikembangkan, lembaran-lembaran evaluasi dan instrumen lain berikut kriteria penilaian yang akan disiapkan dan dikembangkan.
b)        Implementasi/Pelaksanaan Tindakan
Implementasi Tindakan yaitu deskripsi tindakan yang akan dilaksanakan. Scenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.
Uraikan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah dikembangkan pada langkah perencanaan. Langkah-langkah pembelajaran ini akan sesuai dengan hakikat teori yang mendasari strategi pembelajaran, atau sesuai dengan sintaks model pembelajaran yang diadaptasi. Langkah-langkah pembelajaran tersebut hendaknya dibuat secara rinci, karena akan mencerminkan kualitas proses pembelajaran yang akan dihasilkan.
c)        Observasi dan Interpretasi
Observasi dan Interpretasi yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang.[7] Observasi dilakukan terhadap interaksi-interaksi akademik yang terjadi sebagai akibat tindakan yang dilakukan. Interaksi-interaksi yang dimaksud dapat mencakup interaksi antara siswa dengan materi pelajaran, interaksi antar siswa, interaksi antara siswa dengan guru. Oleh sebab itu, uraian secara jelas tindakan yang dilakukan tertuju pada interaksi yang mana saja, bagaimana melakukan observasi, seberapa sering obserbasi itu dilakukan, dan apa tujuan observasi tersebut.
Observasi yang utuh akan mencerminkan proses tindakan yang berlangsung. Untuk memperoleh data yang lebih akurat, observasi sering dilengkapi dengan perekaman dengan tape atau video. Evaluasi biasanya dilakukan untuk mengukur obyek produk, misalnya kualitas proses pembelajaran, sikap siswa, kompetensi praktikal, atau tanggapan siswa. Untuk itu, uraikan evaluasi yang dilakukan, jenisnya dan tujuannya, dan untuk mengukur apa evaluasi itu dilakukan.
d)       Refleksi
Refleksi yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan dilakukan, personal yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan berikutnya.[8]
Hasil observasi selanjutnya direfleksi tingkat ketercapaiannya baik yang terkait dengan proses maupun terhadap hasil tindakan. Refleksi ini bertujuan untuk memformulasikan kekuatan-kekuatan yang ditemukan, kelemahan-kelemahaman dan atau hambatan-hambatan yang mengganjal upaya dalam pencapaian tujuan secara optimal, dan respon siswa. Refleksi ini harus dijelaskan secara rinci. Tujuannya adalah untuk melakukan adaptasi terhadap strategi/pendekatan/metode-model pembelajaran yang diterapkan, lebih memantapkan perencanaan, dan langkah-langkah tindakan yang lebih spesifik dalam rangka pelaksanaan tindakan selanjutnya.
4.      Data dan Sumber Data
Siapa atau apa yang dapat dijadikan sumber data?. Mengingat tujuan PTK adalah perbaikan dalam pembelajaran di kelas, tentu sumber data yang akurat berada dalam lingkungan kelas itu sendiri. Utamanya adalah siswa, kemudian dokumen hasil belajar, buku harian, jurnal pribadi guru seperti case study, foto laporan pengamatan, hasil angket.[9]
Sumber data penelitian hendaknya memadai yait tidak hanya berasal dari satu sumber dan hendaknya ditinjau dari berbagai perspektif. Hal ini dimaksudkan agar peneliti dapat memperoleh informasi yang lengkap sebagai dasar membuat keputusan tindakan. Peneliti dapat memilah-milih mana sumber data utama dan mana sumber data pendukung.
5.      Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
Pada bagian ini menguraikan apa saja data yang dibutuhkan dan bagaimana data tersebut dikumpulkan. Instrumen sangat terkait dengan obyek penelitian, utamanya obyek produk. Instrumen-instrumen tersebut misalnya: pedoman observasi, checklist, pedoman wawancara, tes, angket, dan lain-lain.
Instrumen penelitian sebagai alat pengumpul data memiliki peran peran yang sangat penting dalam proses penelitian. Penarikan kesimpulan penelitian Anda ditentukan oleh data yang terjaring melalui instrument penelitian. Bentuk instrument penelitian yang harus Anda buat ditentukan oleh jenis teknik pengambilan datanya.oleh karena itu, teknik pengambilan data yang Anda pilih harus mencapai tujuan pengumpulan data yaitu untuk menjawab rumusan masalah. Jenis teknik pengambilan data dan instrument penelitian yang bersesuaian dengan tujuan pengumpulan data.[10]
Disamping itu, teknik pengumpulan data yang diperlukan juga harus diuraikan degan jelas seperti melalu pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktifitas di kelas, (termasuk berbagai kemungkinan format dan atau alat bantu rekam yang akan digunakan), penggambaran interaksi di dalam kelas (analisis sosiometrik), pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur assessment dan sebagainya. Selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata-mata sebagai sumber data.[11]
6.      Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan harus dianalisis. Analisis hanya bersifat kualitatif. Jika ada data kuantitatif, analisisnya paling banyak menggunakan statistik deskriptif dengan penyimpulan lebih mendasarkan diri pada nilai rata-rata dan simpangan baku amatan atau persentase amatan.
Teknik analisi data kualitatif dikembangkan oleh Miles dan Huberman (1992) yaitu sebagai berikut:[12]
a)        Reduksi data; dilakukan dengan memilah-milih data yang terkumpul. Data yang diambil adalah yang sesuai dengan tujuan penelitian. Tujuan reduksi data agar data lebih terarah dan lebih mudah dikelola.
b)        Penyajian data; data yang telah dipilah-pilih sesuai tujuan kemudian disajikan ke dalam table. Semua data yang terumpul mulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi diatur dalam tabel agar mempermudah dalam membaca data.
c)        Verivikasi data; dilakukan dengan cara triangulasi data yaitu membandingkan data yang diperoleh dari hasil observasi dengan hasil wawancara, kemudian dibandingkan dengan hasil angket atau dibandingkan dengan sumber data lainnya.tujuannya untuk mengecek apakah informasi yang terkumpul tersebut akurat.
d)       Penarikan simpulan; dilakukan berdasarkan hasil dari semua data yang diperoleh.
7.      Indikator Keberhasilan
Pada bagian ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya. Untuk tindak perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa misalnya perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam bentuk pengurangan (jumlah jenis dan atau tingkat kegawatan) miskonsepsi yang tertampilkan yang patut diduga sebagai dampak dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.[13]
Indikator keberhasilan disusun berdasarkan pengalaman yang telah lalu dan kondisi akhir yang diinginkan yaitu perbaikan/peningkatan, serta dalam menentukan target dipertimbangkan kemampuan siswa untuk mencapainya sehingga realistis dan tidak muluk-muluk.


III.  KESIMPULAN
Proposal adalah usulan tentang suatu kegiatan yang memuat kerangka atau garis besar tentang kegiatan yang hendak dilaksanakan. Proposal pada dasarnya merupakan peta acuan tentang kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peneliti yang memiliki tujuan memberi penjelasan kegiatan yang akan dilaksanakan dan melukiskan kegiatan yang hendak dilaksanakan.
Format Proposal PTK pada umumnya berisi komponen-komponen utama sebagai berikut: Judul Penelitian, Latar Belakang Penelitian, Rumusan Masalah Penelitian, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kajian Pustaka, Metode Penelitian, Rencana Anggaran, Jadwal Penelitian, Personalia Penelitian, Daftar Pustaka, Lampiran-lampiran.
Adapun sistematika  laporan  Penelitian Tindakan  Kelas  (PTK)  secara umum adalah sebagai berikut:
Halaman judul
Halaman pengesahan
Abstrak
Kata pengantar
Daftar isi
Daftar gambar
Daftar lampiran
BAB I PENDAHULUAN
1.        Latar Belakang Penelitian
2.        Rumusan Masalah Penelitian
3.        Tujuan Penelitian
4.        Manfaat Penelitian
BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS TINDAKAN
1.      Kerangka Teoritis
2.      Hasil Penelitian yang Relevan
3.      Perumusan Hipotesis Tindakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
1.      Subjek dan Objek Penelitian
2.      Variabel Penelitian
3.      Rancangan Tindakan
4.      Data dan Sumber Data
5.      Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
6.      Teknik Analisis Data
7.      Indikator Keberhasilan,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.      Hasil Penelitian
a)   Deskripsi Hasil Observasi Tindakan
b)   Deskripsi hasil Tindakan
2.     Pembahasan
BAB V PENUTUP
1.      Simpulan
2.      Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


Daftar Pustaka


Asrori, Mohammad. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV Wacana Prima
Daryanto. 2011. Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah Beserta Contoh-contohnya. Yogyakarta: Gava Media
Muslich, Mansur. 2009. Melaksanakan PTK Itu Mudah. Jakarta: Bumi Aksara
Suyadi. 2012. Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah. Yogyakarta: ANDI
Universitas Negeri Malang. 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang



[1] Universitas Negeri Malang. 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang. Hlm.11
[2] Suyadi. 2012. Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah. Yogyakarta: ANDI. Hlm.31
[3] Universitas Negeri Malang. 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang. Hlm.12
[4] Mohammad Asrori. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV Wacana Prima. Hlm.88-91
[5] Muslich, Mansur. 2009. Melaksanakan PTK Itu Mudah. Jakarta: Bumi Aksara. Hal: 204
[6] Muslich, Mansur. 2009. Melaksanakan PTK Itu Mudah. Jakarta: Bumi Aksara. Hal: 204
[7] Ibid. Hal: 205
[8] Ibid. Hal: 205
[9] Daryanto. 2011. Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah Beserta Contoh-contohnya. Yogyakarta: Gava Media. Hal: 76
[10] Daryanto. 2011. Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah Beserta Contoh-contohnya. Yogyakarta: Gava Media. Hal: 78
[11] Muslich, Mansur. 2009. Melaksanakan PTK Itu Mudah. Jakarta: Bumi Aksara. Hal: 203
[12] Daryanto. 2011. Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah Beserta Contoh-contohnya. Yogyakarta: Gava Media.Hal: 84-85
[13] Muslich, Mansur. 2009. Melaksanakan PTK Itu Mudah. Jakarta: Bumi Aksara. Hal: 205

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar