Pages - Menu

Sabtu, 20 April 2013

VI - Anakon & Anakes - ANALISIS KONTRASTIF MIKROLINGUISTIK (Kajian Tataran Linguistik: Gramatikal, Fonologi, Leksikologi)



Abstrak
Analisis Kontrastif (Anakon) merupakan aktivitas atau kegiatan yang mencoba memperbandingkan bahasa untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan di antara dua bahasa atau lebih. Persamaan dan perbedaan yang diperoleh dan dihasilkan melalui anakon dapat digunakan sebagai landasan dalam meramalkan atau memprediksi kesulitan belajar yang akan dihadapi oleh para siswa/mahasiswa.
Unsur-unsur yang sama dalam bahasa Indonesia dan bahasa yang sedang dipelajari (Arab), satu sama lain saling menunjang dalam pengajarannya. Sebaliknya, unsur-unsur yang berbeda menyebabkan timbulnya kesulitan pengajarannya. Kebiasaan bahasa Indonesia atau berbahasa daerah sangat mempengaruhi pembelajaran bahasa Arab. Untuk mengatasi pengaruh tersebut, maka dibutuhkanlah analisis kontrastif (Anakon).
Makalah ini menjelaskan berbagai persoalan terkait pembelajaran bahasa, ilmu kebahasaan (linguistik), prinsip-prinsip berikut langkah-langkah analisis kontrastif kebahasaan. Dalam hal ini bahasa Indonesia sebagai bahasa sumber (B1) dan bahasa Arab sebagai bahasa target (B2),

Kata Kunci: Mikrolinguistik, Analisis Kontrastif, Gramatikal, Fonologi, Leksikologi

I.             Pendahuluan
Bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting. Peranan bahasa sebagai alat komunikasi antara lain sebagai sarana menjaga hubungan baik antar individu maupun kelompok, untuk kepentingan dunia pariwisata, bisnis, dan lain sebagainya. Hubungan itu tidak hanya sebatas hubungan regional maupun nasional saja tetapi juga hubungan internasional. Bahasa Arab sebagai salah satu bahasa dunia yang dipelajari sebagai bahasa asing di Indonesia.
Tidak mudah mempelajari bahasa Arab di Indonesia. Disamping bahasa Arab masih dikenal dan dipelajari sabagai bahasa asing, juga masih banyak faktor yang mempengaruhi dalam penguasaan bahasa Arab. Faktor yang menjadi kesulitan dalam penguasaan bahasa Arab bagi banyak siswa adalah dengan adanya perbedaan terutama yang menyangkut kaidah bahasa atau tata-bahasa. Perbedaan-perbedaan itu seperti perbedaan budaya (yang mengarah pada unsur semantik dan prakmatik) juga perbedaan gramatikal (yang mengarah pada tata-bahasa terutama yang menyangkut pelaku pria dan wanita, serta waktu pelaksanaan dalam bahasa Arab).
Dengan adanya perbedaan ini, kesulitan juga dihadapi oleh para mahasiswa yang sedang belajar bahasa Arab. Perlu adanya jembatan untuk mengetahui kedua bahasa tersebut baik bahasa Indonesia sebagai bahasa sumber (B1) maupun bahasa Inggris sebagai bahasa sasaran (B2) yaitu dengan analisis kontrastif.
Diharapkan dengan analisis kontrastif ini, para pembelajar dapat dengan mudah memahami pembelajaran bahasa asing (B2). Dalam  makalah  ini akan  mengkontraskan dua bahasa yaitu bahasa sumber (B1) dan bahasa target (B2) dilihat dari aspek Gramatikal, Fonem, Morfem, Sintaks, Simantik dan Leksikal. Diharapkan dengan analisis kontrastif antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab dapat ditemukan jawaban dari kesulitan siswa dalam memahami pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa sumber dan bahasa Arab sebagai bahasa target. Dengan demikian diharapkan memberikan kemudahan dalam hal mengajar dan memberi pemahaman terhadap pembelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
Dengan adanya makalah ini, diharapkan penulis dapat lebih memahami tentang manfaat analisa kontrastif dan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan dalam mengajar bahasa Arab.

II.             Pengertian Analisis Kontrastif Mikrolinguistik
Analisis kontrastif menurut Tarigan sebagai berikut:
Analisis kontrastif berupa prosedur kerja adalah aktifitas atau kegiatan yang mencoba membandingkan struktur B1 dengan struktur B2 untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan diantara kedua bahasa.[1]
Jadi analisis kontrastif adalah kegiatan dalam tujuannya mengidentifikasi perbedaan dan persamaan antara dua bahasa.
Analisis kontrastif adalah salah satu cabang ilmu linguistik yang mempelajari perbedaan dan persamaan antar bahasa, yaitu bahasa sumber (B1) dan bahasa sasaran (B2). Analisis kontrastif secara umum membicarakan dua unsur kebahasaan yaitu makrolinguistik dan mikrolinguistik. Dalam mata-kuliah Penerjemahan dikenal adanya hubungan antara bahasa sumber (B1) dan Bahasa sasaran (B2) yaitu : B1 mempunyai kaidah dan B2 mempunyai padanan, atau sebaliknya dan B1 mempunyai kaidah dan tak ada padanan dalam B2, atau sebaliknya.
Linguistik dari segi telaahnya dapat dibagi atas dua jenis, yaitu linguistik mikro (mikrolinguistik) dan linguistik makro (makrolinguistik). Linguistik mikro dipahami sebagai linguistik yang sifat telaahnya lebih sempit. Artinya, bersifat internal, hanya melihat bahasa sebagai bahasa. Dalam kajian ini bahasa dilihat dalam bidang struktur: fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Linguistik makro bersifat luas, sifat telaahnya ekternal. Linguistik ini mengkaji kegiatan bahasa pada bidang-bidang lain, misalnya ekonomi dan sejarah. Bahasa digunakan sebagai alat untuk melihat bahasa dari sudut pandangan dari luar bahasa.[2]
Mikrolinguistik (Microlinguistics) adalah bidang linguistik yang mempelajari bahasa dalam arti sempit, yaitu bahasa dalam kedudukannya sebagai fenomen alam yang berdiri sendiri. Mikrolinguistik mempelajari bahan bahasa secara langsung tentang sifat-sifat, struktur, cara kerja dan sebagainya.[3] Kajian ilmu kebahasan ini juga mempelajari tentang kesulitan tata-bahasa. Taraf kesulitan tersebut adalah hubungan antara bahasa sumber (B1) dalam hal ini bahasa Indonesia dan bahasa sasaran (B2) bahasa Arab apabila B1 mempunyai kaidah dan tak ada padanan dalam B2, atau sebaliknya.
Sementara pengkajian analisis kontrastif meliputi dua pengkajian baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis analisis kontrastif bertujuan meningkatkan pengetahuan dalam bidang kebahasaan. Secara praktis analisis kontrastif bertujuan untuk keperluan praktis, pengajaran dan penyusunan bahan pengajaran.

III.             Prinsip-Prinsip Umum Analisis Kontrastif Mikrolinguistik
Prinsip-prinsip umum pada Anakon ada dua, yaitu (1) pemerian, pendiskripsian (description) dan (2) perbandingan, komparasi (comparison) dan langkah-langkah itu dilaksanakan dengan berurutan.[4]
Menurut Halliday terdapat dua prinsip pada analisis kontrastif, yaitu memerikan sebelum membandingkan dan membandingkan pola-pola tertentu dan bukan bahasa secara keseluruhan.[5]
Pada prinsip pertama kita tidak dapat membandingkan cara kerja sejumlah bahasa sebelum kita memerikan cara kerja masing–masing bahasa itu. Jika kita ingin menggunakan bahasa ibu sebagai bahan perbandingan dalam mempelajari bahasa asing, kita tidak cukup hanya bisa berbahasa ibu tetapi kita juga harus menguasai bahasa yang akan kita bandingkan itu.
Pada prinsip kedua, kita tidak dapat membandingkan B1 dengan B2 secara keseluruhan. Yang dapat diperbandingkan adalah salah satu atau beberapa unsur  atau pola yang terdapat pada masing-masing bahasa pengandaian yang dibandingkan. Dan kita tidak dapat menarik kesimpulan dari kedua perbandingan ini karena setiap pola perbandingan dibahas secara terpisah.

IV.             Analisis Kontrastif  Mikrolinguistik Indonesia-Arab
A.    Gramatikal
1.      Pengertian Gramatikal
Gramatikal dalam Kamus Pintar Bahasa Indonesia adalah kata sifat yang berarti berdasarkan tata-bahasa, menurut tata-bahasa, sesuai dengan tata-bahasa.[6]
Jadi dapat dikatakan bahwa Gramatikal (Tata bahasa) adalah ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah yang mengatur penggunaan bahasa. Ilmu ini merupakan bagian dari bidang ilmu yang mempelajari bahasa yaitu linguistik.
Telah diketahui bahwa linguistik sebagai sebuah ilmu memilki objek berupa bahasa. Lebih konkretnya lagi bahasa yang dimaksud tersebut berupa parole (ujaran). Linguistik merupakan disiplin ilmu yang mengkaji bahasa manusia yang berupa tuturan dalam suatu bahasa. Dengan demikian, data yang dijadikan korpus untuk kepentingan penelitian ilmu bahasa ialah bahasa yang dipakai manusia untuk berinteraksi, bekerja sama, dalam suatu lingkup kebudayaan tertentu. Linguistik menjadikan bahasa lisan sebagai data primer, sedangkan bahasa tulis sebagai data sekunder.
Dalam kerangka memudahkan analisis atau kajian bahasa, para ahli bahasa (linguis) membuat tataran-tataran bahasa atau linguistik. Tataran-tataran yang dibuat tersebut bahkan menjadi rumpun atau subdisiplin tersendiri.

2.      Satuan-satuan Gramatikal
Dalam kajian linguistik, selain kita diperkenalkan kepada istilah tataran linguistik juga kita diperkenalkan ke dalam istilah satuan-satuan bahasa atau satuan-satuan gramatikal. Satuan-satuan bahasa yang dimaksud adalah unsur-unsur pembentuk bahasa, baik unsur segmental maupun unsur suprasegmental.
Unsur segmental berwujud fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Adapun unsur suprasegmental berwujud nada, tekanan, intonasi, dan jeda.
Unsur-unsur pembentuk bahasa tersebut membentuk suatu kesatuan yang sistemis dan sistematis, dan dikaji dalam cabang linguistik (tataran linguistik) dan relevan. Unsur-unsur berupa fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana lazim pula disebut dengan istilah satuan gramatikal atau tataran gramatikal. Dikaitkan dengan kajian linguistik, satuan gramatikal akan menjadi satuan terbesar atau terkecil dalam tiap tataran linguistik.
Perhatikan bagan berikut:
Bidang Ilmu
Tataran  Gramatikal
Fonologi
Fonem
Morfologi
Morfem
Sintaksis
Frasa
Klausa
Kalimat
Wacana
Alinea
Bagian /sejumlah alinea
Anak Bab
Karangan utuh

3.      Langkah-langkah Analisis Kotrastif Garamatikal
Untuk melakukan analisis kontrastif Gramatikal, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan satu persatu secara berurutan. Langkah-langkah tersebut sebagaimana berikut:[7]
a.       Mengumpulkan data-data yang memperlihatkan system-sistem yang relevan dalam setiap bahasa (B1 dan B2)
b.      Menyatakan realisasi-realisasi setiap kategori gramatikal yang berhubungan dengan anakon yang dilakukan pada setiap bahasa (B1 dan B2)
c.       Memberi suplemen terhadap data yang ada dengan data lain yang serasi dan menunjang
d.      Merumuskan kontras-kontras yang telah ditemui dengan/pada analisis-analisis

4.      Contoh Analisis Kontrastif Gramatikal Indonesia-Arab
Seperti sudah dijelaskan di atas mengenai analisis kontrastif Gramatikal berikut langkah-langkahnya, sekarang kita akan mencoba menganalisis tataran Gramatikal Indonesia-Arab dari bidang sintaksisnya. Berikut ini adalah contoh analisis kontrastif Gramatikal Indonesia-Arab!
1.      Frasa  
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Rumah Muhammad
بيت محمّد
Nenek saya
جدّتي
Pada gramatikal kedua bahasa berlaku hukum DM, yaitu: diterangkan – menerangkan. Dalam bahasa Indonesia susunan ini dikenal dengan sebutan komposisi atau kata majemuk, sedangkan dalam bahasa Arab dikenal dengan الجملة الإضافية  dengan ketentuan-ketentuannya.
2.      Klausa
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Muhammad mandi
يستحمّ محمّد
Kakakku makan
يأكل أخي الكبير
Dalam gramatikal Indonesia, subjek diletakkan sebelum predikat, sedangkan dalam gramatikal Arab terdapat dua pola penyusunan klausa atau kalimat, yaitu: الجملة الفعلية والجملة الاسمية  dengan penyebutan subjek keduanya yang berbeda-beda. Pada pola pertama subjek disebutkan setelah predikat, sedangkan pola kedua disebutkan sebelum predikat.
3.      Kalimat
Menurut fungsinya, unsur–unsur kalimat terdiri atas Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), Pelengkap (Pel) dan Keterangan (Ket). Ada 6 bentuk dasar kalimat bahasa Indonesia dan banyak bentuk dasar bahasa Arab.
Bentuk
Kalimat
Bahasa Indonesia
Bahasa Arab
Verba
Kalimat
الفعل
الجملة
S-P
intransitif
Saya mandi.
اللازمي
أستحمّ
S-P-O
transitif
Yazid membeli baju baru.
المتعدّيّ
يسترى يزيدُ الملبسَ الجديدَ
S-P-Pel.
intransitif
Ahmad menjadi ketua koperasi.
اللازمي
صار أحمدُ رئيسَ الشركةِ
S-P-Ket.
intransitif
Saya tinggal di Desa.
اللازمي
أسكنُ في القريةِ
S-P-O-Pel.
transitif
Kasim memberi istri-nya nafkah.
المتعدّيّ
يُعْطِي قاسمٌ زوجتَه نفقةً
S-P-O-Ket.
transitif
Najib membaca buku di perpustakaan.
المتعدّيّ
ناجب يقرؤ الكتاب في المكتبة

B.     Fonologi
1.      Pengertian Fonologi
Secara etimologi kata fonologi berasal dari gabungan kata fon yang berari ‘bunyi’ , dan logi yang berarti ‘ilmu’. Sebagai sebuah ilmu, fonologi lazim diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari, membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang di produksi oleh alat-alat ucap manusia.
Fonologi dalam pembahasannya bahwa bahasa adalah sistem bunyi ujar sudah disadari oelh para linguis. Oleh karena itu, objek utama kajian linguistik adalah bahasa lisan, yaitu bahasa dalam bentuk bunyi ujar. Jika kita menemukan dalam praktik berbahasa dijumpai ragam bahasa tulis, di anggap sebagai bahasa skunder, yaitu “rekaman” dari bahasa lisan. Oleh karena itu, bahasa tulis bukan menjadi sasaran utama kajian linguistik.
Bila kita mendengar suara orang berbicara entah berpidato atau bercakap-cakap, maka akan kita dengar runtutan bunyi-bunyi bahasa yang terus-menerus, kadang-kadang terdengar hentian sejenak dan hentian agak lama, kadang-kadang terdengar pula suara panjang dan suara biasa, dan sebagainya. Runtutan bunyi bahasa ini dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkat-tingkat kesatuannya. Misalkan, runtutan bunyi dalam bahasa Indonesia berikut (untuk sementara dan memudahkan disini digunakan transkripsi ortografis, bukan transkripsi fonetis dan dengan mengabaikan unsur-unsur suprasegmentalnya).
Bagan berikut barangkali bisa lebih menjelaskan tahap-tahap segmentasi terhadap ujaran [monyet itu melompat keatas truk pisang]
1
Monyetitu
melompatkeatastrukpisang
2
Monyet
Itu
Melompat
keatastrukpisang
3


keatas
trukpisang
4


ke
atas
truk
pisang








           
Kemudian segmen-segmen runtutan buyi itu dapat disegmentasikan lagi sehingga kita sampai pada satuan-satuan runtutan bunyi yang disebut silabel atau suku kata. Sebagai contoh kalau kita ambil runtutan bunyi yang menjadi segmen (1a1) yaitu [monyet] akan kita dapatkan silabel [mo] dan [nyet]. Contoh lain, runtutan bunyi yang menjadi segmen (1b1) yaitu (melompat) akan kita dapatkan segmen [me], [lom], [pat].
Silabel atausuku kata merupakan satuan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh bunyi lain, didepannya, dibelakangnya atau sekaligus didepan dan dibelakangnya. Adanya kenyaringan atau sonoritas inilah yang menandai silabel itu. Puncak kenyaringan itu biasanya sebuah bunyi vocal, yakni bunyi yang dihasilkan tanpa adanya hambatan atau gangguan di rongga mulut. Misalnya pada silabel [mo] ada bunyi [o], pada silabel [nyet] ada bunyi [e], dan pada silabel [pat] ada bunyi vocal [a].
Kemudian runtutan bunyi pada silabel-silabel ini dapat disegmentasikan lagi. Misalnya, silabel [mo] dapat di segmentasikan menjadi bunyi [m] dan bunyi [o], pada silabel [nyet] dapat disegmentasiakn lagi menjadi bunyi [ny], bunyi [e], dan bunyi [t]. Perhatikan bagan berikut :
Monyet
 mo
Nyet
m
o
ny
E
T






melompat
me
lom
Pat
m
e
L
o
m
p
a
t









Bunyi-bunyi bahasa inilah beserta runtutan dan  segala aturannya yang menjadi objek kajian  cabang linguistik  yang disebut fonologi. Jadi, objek kajian fonologi adalah bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap atau alat bicara manusia.

2.      Pembagian Fonologi Kontraktif
Menurut Hierarki satuan bunyi terkecil ynag menjadi objek kajiannya, fonologi di bagi atas dua bagian, yaitu fonetik dan fonemik. Secara umum fonetik bisa dijelaskan sebagai cabang fonologi yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa tanpa memperhatikan statusnya, apakah bunyi-bunyi bahasa itu dapat membedakan makna (kata) atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang kajian fonologi yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsinya sebagai pembeda makna (kata). Lebih jelasnya kalau disimak baik-baik bunyi [i] pada kata [tani] dan kata [batik] adalah tidak sama. Bunyi [u] pada kata [susu] dan [dapur] juga tidak sama.inilah yang menjadi kajian fonetik. Sebaliknya bunyi [b] dan [p] pada kata [kabur] dan [kapur] menyebabkan kedua kata itu memiliki makna yang tidak sama.
Ketidaksamaan ini adalah karena berbedanya  bunyi [b] dan [p] itu meskipun bunyi-bunyi yang ada di sekitarnya memiliki ciri yang sama. Inilah contoh dari objek kajian fonetik disebut fon (bunyi bahasa), sedangkan satuan bunyi terkecil yang menjadi objek kajian fonemik disebut fonem.

3.      Model-Model Fonologis
Analisis fonologis yang dapat digunakan untuk analisis kontraktif hanya mempunyai dua pilihan. Yaitu;[8]
1.      Fonologi Taksonomik
Pendekatan ini bertujuan untuk “mengutarakan sistem-sistem fonem, kemungkinan penggabungan fonem-fonem dan variasi-variasi yang yang non.distingtif dari unit-unit tersebut dalam bahasa-bahasa yang berbeda. Dapat juga dikatakan bahwa secara keseluruhan asumsi-asumsi teoritis ini berjalan lancar” (Kohler 1971 : 84).
2.      Fonologi Generatif
Fonologi generatif berasal dari Amerika (Chomsky dan Halle 1968) yang sebenarnya bercikal bakal dari teori fonologis Eropa tahun 1940-an. Fonologi generatif ini beranggapan bahwa fonologi struktur permukaan diturunkan dari fonologi struktur dalam dengan bantuan transformasi-transformasi.

C.    Leksikologi
1.      Pengertian Leksikologi
Leksikologi (Ilm Al-Ma’ajim),menurut Dr.Ali Al-Qasimy adalah:
علم المعاجم أوعلم المفردات هو دراسة المفردات ومعانيها في لغة واحدة أو في عدد من اللغات.ويهتم علم المفردات من حيث الأساس باشتقاق الألفاظ،وأبنيتها،ودلالاتها المعنوية والإعرابية ،والتّعابير الإصطلاحية، والمترادفات وتعدد المعاني.[9]
Leksikologi atau ilmu kosakata adalah ilmu yang membahas tentang kosakata dan maknanya dalam sebuah bahasa atau beberapa bahasa. Ilmu ini memprioritaskan kajiannya dalam hal derivasi kata,struktur kata,makna kosakata,idiom-idiom,sinonim dan polisemi.
Leksikologi, dalam bahasa inggris dinamakan lexicology yang berarti ilmu/studi rnengenai bentuk, sejarah dan arti kata-kata.[10] sedangkan dalam bahasa arab, leksikologi disebut dengan ilmu Al-ma’ajim yaitu ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk kamus.
Menurut bahasa, lexicology berasal dari kata lexicon yang berarti kamus, mu’jam atau istilah dari sebuah ilmu.[11] Menurut istilah, leksikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari seluk beluk makna/arti kosakata yang telah termuat atau akan dimuat di dalam kamus. Al-Khuli menerjemahkan istilah lexicology dengan sebutan ilm Al-Mufradat (Ilmu Kosakata), bukan Ilm Al-Ma ‘ajim.[12] Menurutnya, pembahasan tentang kosakata dan maknanya telah termuat dalam ruang lingkup ilmu kosa kata (Ilm Al-Mufradat).
Selain istilah Leksikologi dan Ilm Al-Ma ‘ajim, ada juga beberapa istilah lain yang digunakan untuk menyebut ilmu tentang kamus. Misalnya saja, Ilm al-Allfadz, aI-Laffadzah, Ilm Dalalah Mu’jamiyah dan sebagainya.[13]
Jadi dapat di simpulkan bahwa leksikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari seluk beluk makna/arti kosakata yang termuat atau akan dimuat di dalam kamus.

2.      Lahan Subur Leksikologi Kontrastif
Bahasa suatu masyarakat tertentu merupakan bagian integral dari kebudayaannya, dan pembedaan-pembedaan leksikal yang di gambarkan oleh setiap bangsa akan cenderung merefleksikan secara kultural ciri-ciri penting objek-objek, institusi-institusi dan aktifitas-aktifitas di dalam masyarakat tempat bahasa itu beroprasi.
Para pakar antropologi telah meneliti relativitas kultural tentang masalah-masalah atau hal-hal yang berkenaan dengan relativitas semantiko-leksikal. Upaya keras yang di lakukan yaitu:
1.      Telaah mengenai kategori-kategori warna.
2.      Telaah mengenai istilah-istilah kekerabatan.
Bidang kedua yang merupakan lahan subur bagi leksikologi adalah bidang “penerjemahan”.Dan disini penerjemahan evektif berada di garis depan, terutama di antara para penerjemah Bimbel. Dan inipun tidak luput dari pengalaman penerjemah Bimbel di ke berbagai bahasa daerah di tanah air ini.
Dan biasa dimana terdapat para pembelajar dan penerjemah, maka disana terdapat kamus-kamus bilingual. Leksikografi bilingual ini merupakan bidang ketiga yang sangat menarik perhatian dalam praktek bahkan dalam komitmen teoritis bagi leksikologi kontrastif.[14]

3.      Objek Leksikologi
Leksikologi adalah cabang linguistik yang mempelajari leksikon. Leksikon merupakan komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa, kekayaan kata yang dimiliki seorang pembicara, penulis, atau suatu bahasa, perbendaharaan kata, kosakata, daftar kata yang disusun seperti kamus, dengan penjelasan yang singkat dan praktis.[15]
Konsep dasar dalam leksikologi ialah leksem (kata yang merupakan satuan bermakna atau satuan terkecil dari leksikon). Hubungan kata, dan leksem dapat digambarkan dengan diagram berikut:


 


Jadi, kata adalah leksem, baik leksem tunggal maupun gabungan leksem yang sudah mengalami proses morfologik, sedangkan morfem adalah satuan yang terwujud setelah kata
terbentuk. Misalnya kata rumah berasal dari leksem tunggal yang telah mengalami proses derivasi zero ( proses morfologik yang mengubah leksem menjadi kata tanpa penambahan atau pengurangan). Kata berjuang berasal dari leksem juang yang mengalami proses afiksasi dengan ber-. Jadi, kata rumah adalah kata yang terdiri atas morfem tunggal rumah, sedangkan kata berjuang terjadi dari morfem afiks ber- dan morfem dasar juang.[16]
Jika morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, sedangkan leksikologi mempelejari seluk-beluk kata, yaitu perbendaharan kata, pemakaian kata serta artinya seperti dipakai masyarakat pemakai bahasa.
Dari uraian di atas dapat disebutkan bahwa objek leksikologi itu adalah perbendaharaan kata atau kosakata dalam suatu bahasa serta arti kata dan pemakaiannya dalam suatu bahasa.

4.      Lesikologi dan Leksikografi
Lesikologi atau ilmu kosakata adalah ilmu yang membahas tentang kosakata dan maknanya dalam sebuah bahasa atau beberapa bahasa. ilmu ini memperioritaskan kajiannya dalam hal derivasi kata, struktur kata, makna kosakata, idiom-idiom, sinonim dan polisemi.[17]
Dengan pengertian di atas, berarti Ali Al-Qasimy tidak membedakan antara istilah ilmu leksikologi (Ilm Al-Ma’ajim) dan ilmu kosakata (IIm Al-Mufradat). Menurutnya, kajian kedua bidang studi tersebut adalah sama. Dengan kata lain, ilmu leksikologi merupakan perluasan dari ilmu mufradat yang bertujuan untuk menganalisis kosakata, memahami dan menafsirkan makna kata hingga ke tahap merumuskan makna kosakata yang baku dan fushah dan layak dimasukkan ke dalam kamus. Makna sebuah kata yang telah tercantum dalam kamus disebut dengan ‘makna leksikon’.
Sedangkan Leksikografi (Dirasah Mu ‘jamiyah) adalah pengetahuan dan seni menyusun kamus-kamus bahasa dengan menggunakan sistematika tertentu untuk menghasilkan produk kamus yang berkualitas, mudah, dan lengkap.
Antara leksikologi dan leksikografi tidak bisa dipisahkan. Leksikologi tanpa leksikografi, tidak akan menghasilkan sebuah produk kamus yang baik, benar dan mudah dimanfaatkan oleh para pengguna bahasa. Sebaliknya, leksikografi tanpa leksikologi, juga hanya dapat melahirkan kamus-kamus yang tidak sempurna dalam mengungkap makna kosakata. Karena itu, istilah ‘ilmu leksikologi’ lebih umum daripada ‘ilmu leksikografi’. Menyebut ‘Ieksikologi’ berarti berhubungan dan mencakup ‘leksikografi’.
Munculnya perbedaan antara leksikologi dan leksikografi, tidak lepas dan pandangan para pakar linguistik yang telah membagi ilmu linguistik menjadi dua bagian, yaitu ilmu linguistik murni dan ilmu linguistik terapan. Adanya pembagian ilmu linguistik ini, jelas berpengaruh dalam memisahkan antara leksikologi dan Ieksikografi.[18]
Menurut Hilmy Khalil, Leksikologi adalah Ilm Al-Ma’ajim Al-Nadzari, yaitu kajian teoritis tentang makna leksikal dalam sebuah kamus yang bahasannya meliputi: karakteristik kosakata, komponennya, perkembangan maknanya dan lain sebagainya. Karena itu, leksikologi terkadang juga digolongkan sebagai bagian dari ilmu semantik (Ilm Al-Dalalah) karena memang topik kajian dan kedua bidang studi tersebut hampir sama. Hanya saja, cakupan Ieksikologi lebih terbatas pada perwajahan kamus dan hal-hal yang berhubungan dengan isi kandungan kamus.[19]
Sedangkan leksikografi (Ilm Al-Shina’ah Al-Mu’jamiyah) adalah bagian dari linguistik terapan (Ilm Al-Lughah Al-Tathbiqy) yang membahas tentang seni dan teknik  menyusun kamus, pemilihan kata serapan (dakhil), penentuan definisi kata, bahasan tentang kelengkapan komponen kamus, dan informasi lain yang fungsinya memberi pemahaman yang benar dan mudah tentang makna kosakata kepada pengguna kamus, seperti pemakaian gambar, peta, tabel, contoh pengguaan kata dalam kalimat dan sebagainya, sehingga perwajahan (performance) kamus menjadi lengkap dan sempurna.[20]
Secara teknis, Ali Al-Qasimy menjelaskan, bahwa leksikografi adalah ilmu yang membahas tentang lima langkah utama dalam menyusun sebuah kamus, yaitu:
a.       Mengumpulkan data (kosakata).
b.      Memilih pendekatan dan metode penyusunan kamus yang akan ditempuh.
c.       Menyusun kata sesuai dengan sistematika tertentu.
d.      Menulis materi.
e.       Mempublikasikan hasil kodifikasi bahasa atau kamus tersebut.
Dengan demikian, baik ilmu leksikologi maupun ilmu leksikografi, keduanya adalah bagian dari ilmu linguistik. Leksikologi, sebagai studi pengembangan dari ilmu semantik, menjadi bagian dari ilmu linguistik teoritis (Ilm Al-Lughah Al-Nadzary). Sedangkan Ieksikografi, sebagai studi pengembangan dari leksikologi, menjadi bagian dari linguistik terapan (Ilm Al-Lughah Al-Tathbiqy).[21]

5.      Contoh Lesikologi
Kekayaan kata atau kosakata dalam suatu bahasa kita dapat temukan dalam kamus. Anda akan menemukan leksem yang tersusun secara alfabetis. Misalnya kata perikemanusiaan, Anda harus menentukan terlebih dahulu leksem (bentuk asal) kata yaitu manusia sebagai kata entri, sedangkan bentuk-bentuk derivasinya diperlakukan sebagai sub entri, seperti memanusiakan, kemanusiaan dan sebagainya.
Pemakaian kata dan arti kata dapat dijelaskan dalam kamus. Misalnya kata mekar. Kata ini mempunyai berbagai-bagai arti dalam pemakaiannya, seperti dijelaskan dalam kamus sebagai berikut:
Mekar,
1.      Mulai berkembang; menjadi terbuka; mengurai.’ Contohnya Mawar itu mekar disinari matahari pagi.
2.      ‘Menjadi besar dan gembung.’ Contohnya Adonan roti ini telah mekar.
3.      ‘Menjadi bertambah luas’ (besar,ramai, bagus dsb.). Contohnya Jalan sudah makin besar,kota juga tambah mekar.
4.      ‘Mulai tumbuh dan berkembang.’ Contohnya Di hatinya mulai mekar perasaan cinta.
Kemudian diterangkan juga arti kata bentukan dari kata mekar itu,
1.      memekarkan berarti ‘menjadikan mekar’ (berkembang, bertambah besar, luas, dsb.)
2.      Contohnya Rencana untuk memekarkan wilayah kota ke selatan dan ke barat.
3.      pemekaran berarti ‘proses menjadikan bertambah besar’ (luas, banyak, lebar, dsb).
4.      Contohnya Pemekaran lahan persawahan dilakukan dengan membuat sawah-sawah baru di bekas tanah tegalan.
Dalam bahasa arab, misalnya kata عين mengandung beberapa komponen konsep makna, yakni mata/panca indera (عين البصر), sumur/mata air (البئر), mata-mata (الجاموس)  ,bulatan matahari ( الشمشقرص).
Kata “الخالmisalnya, bisa berarti: paman, tahi lalat diwajah, awan dan onta yang gemuk.[22]
Contoh lain, kata يد  yang juga mengandung beberapa komponen konsep makna, Selain bermakna tangan/organ tubuh (عضو)  juga bermakna kekuasaan (قوة). Sebagaimana pada Firma Allah Swt:
والسماء بنينها باءيد وانا لموسعون
 Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan kami dan sesungguhnya kami benar-benar berkuasa”.[23]
Leksikon semakin berkembang pesat dikalangan bangsa Arab,terutama umat Islam,seiring dengan aktifitas mereka dalam usaha memahami dan menginterpretasikan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Salah satu buktinya adalah riwayat Abu Ubaidah dalam Al-Fadhail dari anas bahwa ketika Khalifah Umar bin Khatab ra.(584-644 M) berkhutbah diatas mimbar,beliau membaca ayat:
ZpygÅ3»sùur $|/r&ur ÇÌÊÈ  
“Dan buah-buahan serta rumpu-rumputan”.[24]
Lalu,Umar berkata:”Arti kata fakihah (buah) telah kita ketahui,tetapi apakah makna kata abb pada ayat tersebut?”. [25]
Ibnu Abbas ra. Juga pernah mempertanyakan makna dari kata “Fatir” dalam firman Allah SWT surat Fatir ayat 1.
ßôJptø:$# ¬! ̍ÏÛ$sù ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur È@Ïã%y` Ïps3Í´¯»n=yJø9$# ¸xßâ þÍ<'ré& 7pysÏZô_r& 4oY÷V¨B y]»n=èOur yì»t/âur 4 ߃Ìtƒ Îû È,ù=sƒø:$# $tB âä!$t±o 4 ¨bÎ) ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇÊÈ  
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.[26]
Untuk mencari tahu makna kata tersebut,Ibnu Abbas ra. Rela masuk ke daerah-daerah pelosok desa di wilayah Arab Badui yang dikenal masih memiliki kebahasaan yang asli.Kala itu,Ibnu Abbas melihat dua orang di dusun yang sedang bertengkar tentang masalah sumur,salah seorang berkat:”Ana Fathartuha” (maksudnya, sayalah yang pertama kali membuatnya).Dengan peristiwa ini,akhirnya Ibnu Abbas bisa memahami bahwa tafsir dari kata fathir berarti “pencipta”.[27]

V.             Kesimpulan
Analisis kontrastif adalah membandingkan persamaan dan perbedaan antara bahasa ibu (B1) dan bahasa sasaran (B2). Namun proses perbandingan ini hanya sebatas pada membandingkan unsur kebahasaan  yang ada dalam struktur kedua bahasa, baik dari faktor perbedaan gramatikal ataupun leksikalnya ataupun faktor kebahasaan lainnya.
Cabang-cabang linguisik dibagi dua yaitu mikrolinguistik dan makro-linguistik. Mikrolinguistik merupakan bidang teoretis dalam linguistik. Mikrolinguistik adalah bidang linguisti yang mempelajari bahasa dalam arti sempit. Diantara beberapa cakupan Mikrolinguistik adalah sebagai berikut:
a.       Fonologi merupakan cabang mikro linguistik yang ruang lingkupnya membahas tentang bunyi bahasa ditinjau dari fungsinya.
b.      Morfologi merupakan anak cabang dari mikro linguistik yang cakupan pembahasannya tentang kata dan kelompok kata. Morfologi juga termasuk menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya dan cara pembentukannya.
c.       Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain di atas kata, hubungan satu dengan lainnya dan cara penyesuaiannya.
d.      Semantik menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal ataupun kontekstual.
e.       Leksikologi menyelidiki keberadaab leksikon / kosakata suatu bahasa.
Demikanlah yang dapat penulis utarakan tentang studi analisis kontrastif mikrolinguistik. Kekurangan dan kelebihan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa penulis adalah manusia biasa yang tidak luput dari salah dan lupa. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan datangnya kritik yang bersifat membangun dari berbagai segi.

Daftar Pustaka


Ali Al-Khuli,  Muhammad, 1982. A Dictionary of Theoretical Linguistics. Lebanon: Maktabah Lubnan
Al-Qaththan, Manna’. Tt. Pengatar Study Ilmu al-Qur’an, terj.H.Aunur rafiq El-mazni. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
Ba’dulu, Abdul Muiz dan Herman. 2005. Morfosintaksis. Jakarta: Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 2002. Onologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
-----------------. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
-----------------. 2007. Kajian Bahasa. Jakarta: Rineka Cipta
Echols, John M. dan Hasan Syadliy,1996. Kamus Inggris Indonesia Jakarta: PT Gramedia
Guntur, Henry Tarigan. 2009. Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa. Bandung: Angkasa
Halliday, M.A.K. (1970). The Linguistic Sciences and Language Teaching. Bloomington:Indiana University Press
Istyono, Y. Wahyu dan Ostaria Silaban. 2006. Kamus Pintar Bahasa Indonesia, Batam: Karisma Publishing Group.
Khalil, Hilmy,  Muqaddimah li Dirasah Al-Lugah.  Iskandariyah: Dar Al-Ma’riah Al-Jami’iyyah
Kushartanti, dkk.. 2005. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Marsono. 1999. Fonetik. Yogyakarta: UGM Press
Muslich, Masnur. 2008. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara
Research and Studies Centre, 2004. The Dictionary English-Arabic. Lebanon: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah
Rusmaji, Oscar. 1995. Aspek-Aspek Linguistik. Malang: Penerbit IKIP Malang
Tarigan, Prof. DR. H. G.  1993. Pengajaran Kosakata.Bandung; Angkasa.
Taufiqurrochman,  H.R.,2008. Leksikologi Bahasa Arab. Yogyakarta: SUKSES Ofsset


[1] Henry Guntur Tarigan. 2009. Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa. Hal: 5
[2] Rusmaji, Oscar. 1995. Aspek-Aspek Linguistik. Hal: 14
[3] Rusmaji, Oscar. 1995. Aspek-Aspek Linguistik. Hal: 16
[4] Henry guntur tarigan,  Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa. Hal: 131
[5] Halliday, M.A.K. The Linguistic Sciences and Language Teaching. Hal:73

[6] Y.Istyono Wahyu dan Ostaria Silaban. 2006. Kamus Pintar Bahasa Indonesia. Hal: 195
[7] Henry Guntur Tarigan. 2009. Pengajaran Analisis Kontrastif Bahasa.Hal: 137
[8] Henry.G. Tarigan.. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Hal: 150
[9] Ali Al-Qasimy, Ilm Al-Lughah wa Shina’ah Al-mu’jam . Hal:  3
[10] John M. Echols dan Hasan Syadliy, Kamus Inggris Indonesia . Hal: 356
[11] Research and Studies Centre, The Dictionary English-Arabic. Hal:  446
[12] Muhammad Ali Al-Khuli A Dictionary of Theoretical Linguistics. Hal: 154
[13] H.R. Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab. Hal: 2
[14] Henry.G. Tarigan, ibid, hlm. 156
[15] Kridalaksana Harimurti, Kamus linguistik.. Hal: 114
[16] Kushartanti, dkk.. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. Hal: 139
[17] H.R. Taufiqurrochman. Ibid, Hal:  6
[18] H.R. Taufiqurrochman Ibid. Hal:  6-7
[19] Hilmy Khalil,  Muqaddimah li Dirasah Al-Lugah. Hal: 333
[20] H.R. Taufiqurrochman Ibid, Hal: 338
[21] Ali Al-Qasimy, Op.cit. Hal: 3
[22] Sahkholid Nasution, Pengantar Linguistik analisis teori-teori linguistic dalam bahasa arab. Hal: 140-141
[23] H.R. Taufiqurrochman Ibid, hlm. 73
[24] QS. ‘Abasa [80]:31
[25] Manna’ Al-Qaththan. Tt. Pengatar Study Ilmu al-Qur’an, terj.H.Aunur 2006. Hal: 422
[26] QS. Al-fathir [35]:1
[27] H.R. Taufiqurrochman Ibid, hlm. 198

Tidak ada komentar:

Posting Komentar